Profil : Dra. Nur Jannah Niturah, MM “Ibarat menjahit baju, sebelumnya harus diukur dulu orang yang akan memakainya. Kalau tidak sesuai bisa jadi bajunya akan kelonggaran atau terlalu sempit. Begitu pula bantuan yang akan diberikan sebaiknya disesuaikan dulu dengan kebutuhan para korban sehingga penanganan bantuan dapat disalurkan dengan lebih efektif.” Kata-kata tersebut menjadi pegangan bagi psikolog senior penasehat Crisis Centre untuk project Aceh, Dra. Nur Jannah Niturah, MM. dalam memberikan perspektifnya menangani korban bencana tsunami di Aceh. Ibu empat anak alumni Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada ini sejak masih kuliah sudah aktif dalam berbagai aktivitas dan organisasi kemahasiswaan, salah satunya Teater UGM dan Jamaah Salahuddin. "Sebenarnya saya bukan asli berasal dari Aceh, ayah saya keturunan Arab dan ibu dari Solo. Saya baru menetap di Aceh bersama suami sejak menjadi dosen di Universitas Syah Kuala (Unsyiah)", kata ibu ini ketika ditemui di sela-sela acara Soft Opening Zaituna Center dan Seurunee Center di Fakultas Psikologi UGM. Ibu yang lahir tanggal 18 Oktober 1963 di Boyolali ini selain menjadi dosen, sekarang juga aktif di beberapa lembaga seperti Psikodista dan YPAC. Sejak tahun 1989-2004 beliau juga aktif mengisi rubrik konsultasi di harian Serambi Indonesia. "Tapi sejak bencana tsunami kemarin, rubrik itu dihentikan sementara. Sekarang lebih intens ke penanganan korban tsunami langsung di tempat-tempat penampungan". Rasa senang dan puas ketika melihat para korban dapat bangkit kembali dan memulai hidupnya, merupakan alasan ibu ini untuk terus memberikan perhatian yang sangat besar pada para korban tsunami. Penanganan atau treatment yang diberikan oleh ibu yang meraih gelar Magister Management di Unsyiah dan rekan-rekannya pada korban tsunami dilakukan dalam beberapa fase. Pada awalnya para korban diberikan kesempatan untuk berbicara atau menceritakan apa yang mereka alami, kemudian diupayakan ekspresi emosi mereka muncul agar mereka dapat mengatasi trauma yang mereka hadapi. Setelah itu baru dieksplorasi apa saja potensi-potensi yang dimiliki orang-orang tersebut agar penanganan atau pemberian bantuan tidak salah sasaran. Menurutnya, penanganan yang dibutuhkan sekarang memang lebih dari segi psikososial dan ekonomi dan harus disesuaikan dengan kebutuhan serta potensi yang dimiliki oleh tiap-tiap orang. "Contohnya beberapa orang Aceh yang biasanya menjadi nelayan diberikan bibit jagung yang harus bisa disemaikan. Prosesnya saja mereka nggak ngerti, apalagi kalau tiba-tiba tanamannya kena penyakit. Mereka kan tidak tahu bagaimana harus menanganinya". Ketidak-sinkronan antara kebutuhan dan pemberian bantuan juga merupakan salah satu penyebab mengapa terdapat orang-orang Aceh sendiri yang manja dan selalu mengharapkan bantuan dari relawan-relawan yang berada di Aceh. "Keseluruhan apa yang kita kerjakan ini adalah rehabilitasi yang tidak dapat dikerjakan orang perorangan tapi harus transdisipliner. Semuanya saling mengisi satu sama lain sehingga tiap-tiap kekurangan dapat dipecahkan bersama-sama", tutupnya. |